Ada Kehidupan lain di Sistem Tata Surya Kita



Rhea, bulan berbalut es milik planet Saturnus ternyata memiliki atmosfir yang mengandung oksigen dan karbondioksida yang sangat mirip dengan atmosfir planet Bumi. Menariknya, temuan itu membuka peluang adanya kehidupan di Rhea dan kemungkinan manusia bisa bernafas di sana.

Tampaknya, jumlah oksigen di Rhea jauh lebih banyak dibandingkan yang diperkirakan oleh astronom selama ini. Khususnya karena bulan tersebut tampaknya sangat beku dan padat.

Menurut data terakhir dari satelit Cassini, atmosfir tipis milik Rhea dijaga oleh dekomposisi kimia dari air es di permukaan Rhea. Diperkirakan, magnetosfer yang sangat besar dari Saturnus terus mengimbas ke air es Rhea, dan kemudian membantu menjaga kondisi atmosfir tersebut.

Saat ini, seperti dikutip dari 
io9, 27 November 2010, menurut pengamatan para astronom, diperkirakan oksigen milik Rhea tidaklah bebas. Namun terjebak di dalam samudera Rhea yang membeku.

Meski hadirnya oksigen di Rhea mudah dipahami, astronom lebih tertarik dengan karbondioksida yang  ada di bulan itu. Gas yang tampaknya terjadi akibat reaksi antara molekul organik dan oksidan yang ada di permukaan bulan.

Jika demikian adanya, hal ini persis dengan kejadian yang berlangsung di planet Bumi, beberapa miliar tahun yang lalu.

Temuan ini juga merupakan bukti lebih lanjut bahwa ada kehidupan lain di sistem tata surya kita. Meski tampaknya hanya kehidupan di Bumi yang mengalami kondisi yang cukup bagus sehingga dapat bertahan hingga sejauh ini.

Benarkah Sering Begadang Picu Kematian Dini




Kegemaran begadang dan kurang tidur tak baik untuk kesehatan. Sebuah penelitian mengungkap, pria dengan insomnia kronis memiliki risiko meninggal lebih cepat empat kali lipat dibandingkan mereka yang memiliki pola tidur sehat.

Seperti dikutip laman 
Daily Mail, temuan studi ini menambah bukti bahwa ti Oleh karenanya, perlu pola tidur sehat jika tak ingin mengalami mati muda.

Kesimpulan itu berdasar penelitian yang diterbitkan dalam jurnal kedokteran terkait tidur. Penelitian memelajari pola tidur 1.000 wanita dan 741 pria sejak 1990. Delapan persen wanita dan empat persen pria memiliki insomnia kronis dengan tidur kurang dari enam jam semalam.

Peningkatan risiko kematian dipengaruhi pola tidur yang buruk, seperti diabetes dan tekanan darah tinggi. Kondisi diperburuk dengan kebiasaan merokok, penggunaan alkohol, depresi, obesitas dan gangguan tidur.

Wanita dengan insomnia tidak terlalu berisiko menyebabkan kematian. Wanita lebih mampu mengatasi masalah kurang tidur tanpa menurunkan harapan hidup mereka. Namun, para peneliti masih mencoba mencari penjelasan lebih detail mengapa insomnia lebih berbahaya bagi pria.

"Kami percaya bahwa secara kumulatif temuan ini akan meningkatkan kesadaran para dokter dan ilmuwan untuk tidak meremehkan insomnia, masalah gangguan tidur ini harus didiagnosis dini dan diobati dengan tepat," kata peneliti utama Dr Alexandros Vgontzas.

Para ahli mengatakan kebanyakan orang dewasa membutuhkan antara tujuh dan delapan jam tidur setiap malam. Tidur kurang dari itu meningkatkan asupan makanan berlemak sekitar dua persen. Seiring berjalannya waktu, ini yang memberi efek buruk pada kesehatan.

 

Copyright © Just to Share. Template created by Volverene from Templates Block
WP by Simply WP | Solitaire Online