British eight-year-olds publish study in top science journal

A group of British children aged between eight and 10 had their school project on bees published by the prestigious Royal Society in a world scientific first, the society said Wednesday.

The pupils from Blackawton primary school in the county of Devon investigated how bumblebees see colours and patterns using a series of experiments in a local churchyard.

The findings by the 25 children, drawn up with a scientist who lives in the area, have been published in Biology Letters, a peer-reviewed journal published by the Royal Society.

"The field of insect colour and pattern vision is generally poorly understood and the findings reported by the school children represent a genuine advance in the field," the Royal Society said in a statement.

The headmaster of the school, Dave Strudwick, said his pupils "devised, conducted and wrote up an experiment which resulted in genuinely novel findings, so they deserve to be published."

The children used patterns drawn with coloured pencil to see whether the insects would go for sugar water and avoid salt water.

"We discovered that bumblebees can use a combination of colour and spatial relationships in deciding which colour of flower to forage from. We also discovered that science is cool and fun because you get to do stuff that no one has ever done before," they concluded in the paper.

Biology Letters editor Brian Charlesworth said their paper was a "world first in high quality scientific publishing."

  • antaranews

Thirteen young Indonesian scientists to compete in Moscow

Thirteen shortlisted students will represent Indonesia at the 2011 International Conference of Young Scientists (ICYS) due to be held in Moscow, Russia, on April 24-29, a government official said.

Among them were two Balinese students, Jessica Ikhwan (SMA CHIS, Denpasar) and Luh Laksmi Dharayanti Satria (SMAN 1 Singaraja), Head of Bali province`s education, youth and sports office, I Wayan Suasta, said here Wednesday.

Jessica and Luh Laksmi were successful in a very tight national selection process recently held in Bandung, West Java province, along with 11 other junior and high school students, he said.

"They will defend Indonesia`s honor at the ICYS along with eleven other students who are successfully shortlisted in the national test in Bandung," he said.

The other students consisted of Arief Ridho Kusuma (SMAN 1 Samarinda), Sallie Naomi (SMP St. Laurensia, Tangerang), Michael Sunarto (SMP Chandra Kusuma, Medan), Christa Lorenzia Soesanto (SMA St. Laurensia, Tangerang) and Reza Abdurahman (SMA Taruna Nusantara, Magelang).

Then Ganang Albryansah (SMPN 1 Bontang), Dwiky Rendra Graha Subekti (SMA Theresiana 1 Semarang), Fialdy Josua Pattirajawane (SMP Chandra Kusuma Medan), Luthfi Mu`awan (SMAN 1 Purwareja), Luh Laksmi Dharayanti Satria (SMAN 1 Singaraja), Jessica Ikhwan (SMA CHIS Denpasar), Jessica Lo (SMA Kristen Cita Hati Surabaya) and Christy Hong (SMA St. Laurensia Tangerang). 

"At the conference, students from various countries will compete in four research fields, namely physics, math, computer and ecology sciences," Suasta said.

Luh Laksmi Dharayanti herself would compete in ecology science by presenting her research outcome entitiled "The Utilization of Tea Warte (Camellia synensis) As Natural Marine Fish". 

Her colleague, Jessica Ikhwan, would also compete in the same research topic by presenting her report titled "The Making of Artificial Reef". 

"This is the first time for Bali to be able to send its students to this world`s young scientist conference," he said.

At the 2009 ICYS, held in Bali provincial capital of Denpasar, none of Balinese students was in the Indonesian team despite the fact that Bali was chosen by the central government as the host, he said.

"We hope our two students will be able to do their best at the prestigious conference," he said.
  • antaranews

Gen Pembentuk Anak Kriminal Ditemukan


Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Mungkin ini lah peribahasa yang cocok untuk menggambarkan sikap anak yang tidak jauh berbeda dari perangai orang tuanya.

Bahkan, jika anak sering melakukan tindak kriminal dan berulang kali berurusan dengan hal-hal kejahatan, hal ini turut dipengaruhi oleh faktor genetik. Jika Anda menemukan seseorang yang sering melakukan tindak kriminal, bisa diselidiki, apakah orang tuanya juga berperilaku sama seperti anaknya.

Seperti dikutip dari laman 
Daily Mail, sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat (AS) mengungkapkan bahwa segala tindakan dan perilaku seorang anak pasti tidak akan jauh dari pribadi orang tuanya.

Sebuah studi yang melibatkan anak laki-laki dan perempuan yang diketahui memiliki catatan kriminal empat kali ternyata setelah diteliti memiliki orang tua dengan segudang catatan kriminal.

The Florida State University mempelajari sikap 250 anak remaja pria dan perempuan. Mereka diteliti dengan melakukan wawancara saat memasuki usia SMA, kemudian secara berkala diwawancarai selama 13 tahun ke depan.

Dari penelitian ini terungkap, bahwa anak remaja laki-laki dan perempuan yang memiliki orang tua kandung dengan masalah kriminal dan pernah berurusan dengan polisi 4-5 kali, cenderung memiliki anak dengan sikap yang sama dibanding dengan orang tua kandung yang sama sekali tidak pernah berurusan dengan kepolisian.

"Anak-anak yang memiliki ayah biologis atau ibu kandung pernah bertindak kriminal, secara signifikan akan mengalami hal yang sama, dengan hukuman masa percobaan, beberapa kali dipenjara atau ditangkap," kata Kevin Beaver, penulis studi dan kriminologi.

Gen ini juga terlibat dalam perilaku kekerasan antisosial termasuk salah satu yang disebut MAO-A yang membuat enzim sebagai pemecah bahan kimia dalam otak yang terkait dengan agresi.

Versi ekstrim dari MAO-A atau gen jenis lain, telah terbukti memiliki pengaruh kuat ketika dipasangkan dengan perilaku anak yang bermasalah dalam pendidikan. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal 
Biological Psychiatry.

Gula, Peredam Emosi yang Bagus


Emosi bisa datang kapan saja. Tentunya jika dibiarkan tidak terkontrol, akan merugikan Anda dan orang-orang di sekeliling. Ada cara mudah untuk meredamnya, yaitu segera konsumsi saja makanan atau minuman bercitarasa manis.


Mengonsumsi makanan manis, menurut penelitian tim dari Ohio State University, dapat membantu Anda mengontrol emosi. Kesimpulan tersebut diambil dengan membandingkan perilaku relawan yang ingin sangat ingin makanan manis dan relawan yang telah diberikan minuman manis.
Para peneliti percaya bahwa efek ini disebabkan oleh glukosa (gula sederhana yang ditemukan dalam aliran darah) yang berfungsi menyediakan energi untuk otak.


"Menghindari sikap agresif impulsif membutuhkan pengendalian diri. Pengendalian ini membutuhkan banyak energi, glukosa pun berfungsi menyediakan energi untuk otak. Mengonsumsi minuman manis dapat membantu menyediakan energi jangka pendek yang diperlukan, untuk mengontrol diri agar Anda tidak memukul orang lain," kata salah satu peneliti Profesor Brad Bushman, seperti dikutip dari Daily Mail.


Profesor Bushman menjelaskan, penemuan itu adalah lebih dari sekadar kepentingan medis. Dalam dua makalah yang diterbitkan, ia dan rekan-rekannya melakukan beberapa studi menunjukkan bahwa orang yang memiliki sistem metabolisme tubuh yang buruk, cenderung lebih bersikap agresif dan sulit memaafkan orang lain. Masalahnya adalah bahwa jumlah orang yang memiliki kesulitan metabolisme glukosa - terutama mereka dengan diabetes - meningkat pesat.


"Diabetes bukan hanya merusak diri sendiri tetapi juga orang-orang di sekitar. Metabolisme glukosa yang stabil dapat berkontribusi pada kondisi sosial yang damai, dengan memberikan level energi yang tinggi untuk pengendalian diri," ujarnya menambahkan.


Dalam studi yang dipublikasikan secara online dalam Journal Aggressive Behavior, 62 mahasiswa diminta berpuasa selama tiga jam untuk mengurangi ketidakstabilan glukosa. Mereka diberitahu bahwa akan berpartisipasi dalam studi uji rasa, kemudian setelah itu dilihat reaksi mereka untuk dievaluasi dalam tes terkomputerisasi.


Setengah dari peserta diberi minuman limun ditambah gula murni, sementara yang lain diberi limun dengan gula pengganti (sucralose, sakarin dan aspartam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang minum limun dengan gula bersikap tidak terlalu agresif dibanding mereka yang minum limun dengan gula pengganti.



 

Copyright © Just to Share. Template created by Volverene from Templates Block
WP by Simply WP | Solitaire Online